Pengertian Hikmah
Ali Bin Abi Thalib adalah seorang Khulafaaurrasyidin,
beliau juga adalah seorang sahabat Rasulullah yang paling dekat, beliau
mempunyai banyak pengetahuan dan luas pemahamannya, fasih dalam berbicara dan
kata-katanya penuh berisi nilai yang tinggi-tinggi. Beliau adalah seorang ahli
hikmah. Suatu ketika Ali memberi nasihat kepada
puteranya Hasan sebagai berikut :
“Anakku, hidupkan hatimu dengan Mau’idzoh (
Pengajaran ). Kuatkan
ia dengan keyakinan dan beri cahaya ia dengan hikmah. “
Kata Hikmah mempunyai arti yang beragam. Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata Hikmahmempunyai
beberapa arti. Pertama, kebijaksanaan dari Allah. Kedua, sakti atau kesaktian (kekuatan ghaib). Ketiga, arti atau makna
yang dalam. Keempat, manfaat.
Sekarang
marilah kita simak definisi ilmu al-Hikmah secara lengkap. Yang meliputi
definisi secara bahasa, istilah syari’at dan pendapat para ulama tafsir dalam
masalah ini. Menurut kamus bahasa Arab, al-Hikmah mempunyai banyak arti. Di
antaranya, kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan,
filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur’anul
karim, sedangkan Imam al-Jurjani
rahimahullah dalam kitabnya memberikan makna al-Hikmah secara bahasa artinya
ilmu yang disertai amal (perbuatan). Atau perkataan yang logis dan bersih dari
kesia-siaan. Orang yang ahli ilmu Hikmah disebut al-Hakim, bentuk jamaknya
(plural) adalah al-Hukama. Yaitu orang-orang yang perkataan dan perbuatannya
sesuai dengan sunnah Rasulullah
Al-Hikmah juga bermakna kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu
membuat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional). Al-Hikmah
juga merupakan ungkapan dari perbuatan seseorang yang dilakukan pada waktu yang
tepat dan dengan cara yang tepat pula.
Para ulama tafsir rahimahumullah juga mempunyai definisi masing-masing
tentang ilmu alHikmah. Yang mana antar pendapat tersebut saling berkaitan dan
melengkapi satu sama lain. Imam Mujahid mengartikan al-Hikmah, “Benar dalam
perkataan dan perbuatan”. Ibnu Zaid memaknai, “Cendekia
dalam memahami agama.” Malik
bin Anasmengartikan, “Pengetahuan dan pemahaman
yang dalam terhadap agama Allah, lalu mengikuti ajarannya.” Ibnul Qasim mengatakan,
“Memahami ajaran agama Allah lalu mengikutinya dan mengamalkannya.” Imam Ibrahim an-Nakho’i
mengartikan, “Memahami apa yang dikandung
al-Qur’an.”
Imam as-Suddiy mengartikan al-Hikmah dengan an-Nubuwwah (kenabian).
Ar-rabi’
bin Anas berkata, “Rasa takut kepada Allah.”
Hasan al-Bashri memaknai, “Sifat wara’ (hati-hati dalam masalah halal dan haram).” Imam al-Qurthubi berkata,
“Semua makna di atas saling berkaitan satu sama lain, kecuali pendapat as-Suddi,
ar-Rabi’ danal-Hasan. Ketiga pendapat mereka saling berdekatan
satu sama lain. Karena al-Hikmah sumbernya dari al-Ahkam. Yang artinya mumpuni
dalam perkataan dan perbuatan. Dan semua makna yang disebutkan di atas adalah
bagian dari al-Hikmah. Al-Qur’an itu hikmah, sunnah Rasulullah juga hikmah."
Imam at-Thabari rahimahullah menambahkan, “Menurut
kami, makna hikmah yang tepat adalah ilmu tentang hukum-hukum Allah yang tidak
bisa dipahaminya kecuali melalui penjelasan Rasulullah. Dengan begitu al-Hikmah
disini berasal dari kata al-Hukmu yang bermakna penjelasan antara yang haq dan
yang bathil. Seperti kalimat al-Jilsah berasal dari kata al-Julus. Kalau
dikatakan bahwa si Fulan itu orang yang Hakiim, berarti dia itu orang yang
benar dalam perkataan dan perbuatan.”
Jika kita memperhatikan makna al-Hikmah dalam ayat-ayat al-Qur’an,
maka akan kita jumpai mayoritas makna al-Hikmah adalah al-Hadits atau as-Sunnah. Mayoritas kata
al-Hikmah dalam ayat al-Qur’an disandingkan dengan kata alKitab yang
maksudnya adalah al-Qur’an.
Perhatikanlah ayat-ayat berikut, misalnya:
Artinya : “Sebagaimana (Kami telah
menyempurnakan ni’ mat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di
antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan
mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan
kepada kamu apa yang belum kamu ketahui“. (QS. al-Baqarah: 151).
Artinya : “Dan ingatlah apa yang dibacakan di
rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah
adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Ahzab: 34).
Di surat lain,
Artinya : “Dia-lah yang mengutus
kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan
ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar
dalam kesesatan yang nyata, (QS. at. Jumu’ah: 2).
Dari ragam definisi ilmu al-Hikmah tersebut, kita bisa memahami
bahwa yang dimaksud dengan ilmu Al-Hikmah adalah ilmu yang mempelajari
al-Qur’an dan al-Hadits, yang mencakup cara bacanya dengan benar, pemahaman
maksud dan apa yang dikandungnya, lalu mempraktikkannya dalam perkataan dan
perbuatan. Apabila perkataan dan perbuatan kita berlandaskan pada dua kitab
tersebut, maka kita tidak akan salah atau tersesat dari jalan yang benar.
Rasulullah bersabda, “Telah aku tinggalkan pada
kalian dua hal. Kalian tidak akan tersesat selama masih berpegang teguh pada
keduanya, yaitu Kitabullah (al-Qur’an) dan sunnah nabi-Nya (al-Hadits).” (HR. Malik, no. 1395).
Dan tidak ada satupun ayat atau hadits shahih yang menjelaskan
bahwa maksud dari ilmu al-Hikmah adalah ilmu kesaktian atau kadigdayaan, yang
menjadikan pemiliknya kebal senjata tajam, tidak terbakar oleh api, bisa
menghilang, mampu menerawang atau meramal, bisa melihat jin dan syetan, serta
tujuan kesaktian lainnya. Apalagi kalau dalam proses mendapatkan ilmu seperti
itu dengan puasa atau shalat serta wirid bacaan yang tidak pernah dicontohkan
oleh Rasulullah.
Ilmu hikmah bukanlah ilmu sihir yang melibatkan bantuan jin atau
syetan. Sehingga bisa di transfer dari satu orang ke orang lain, dipamerkan di
tempat-tempat keramaian, dijadikan sebagai bahan pertunjukan, dipelajari dalam
waktu sekejap, dimiliki dengan ritual-ritual khusus, dikuasai dengan media
jimat, wifik, rajah atau benda pusaka, atau diperjual-belikan dengan
mahar-mahar tertentu.
Ilmu Hikmah adalah ilmu panduan, yang membimbing kita kita
mengenal ajaran-ajaran Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya, sehingga kita bisa
mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, mana yang diperintahkan dan
mana yang dilarang. Dengan ilmu hikmah seperti itulah, kita akan menjadi orang
yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Itulah sejatinya ilmu Hikmah!